Bekasi - Di tengah kepadatan pertumbuhan kota dan gemuruh kendaraan
yang tak pernah tidur, berdirilah sebuah bangunan tua di Tambun Selatan,
Bekasi. Telah lama berdiri kokoh sebuah bangunan tua yang memancarkan aura
sejarah Gedung Juang 45 Bekasi. Gedung ini bukan sekadar saksi bisu zaman
penjajahan, tetapi telah menjelma menjadi simbol perjuangan dan identitas
masyarakat Bekasi. Dulu tempat ini hanyalah sebuah bangunan rumah besar milik
tuan tanah Belanda, kini telah menjadi simbol bangunan baru Bekasi.
Gedung Juang dibangun sekitar tahun 1906 oleh keluarga Khaw
Tjeng Tjoan, seorang tuan tanah keturunan Tionghoa yang mengelola lahan luas di
kawasan Tambun. Bangunan bergaya arsitektur kolonial ini kemudian telah beralih
fungsi menjadi markas perjuangan rakyat Bekasi pada masa Revolusi. Dalam
catatan sejarah, gedung ini pernah menjadi tempat berkumpulnya para pejuang
yang merencanakan perlawanan terhadap Belanda dan Jepang. Dalam bangunan
membawa suasana rapat rahasia, bisikan strategi, hingga gema takbir perjuangan
pernah mengisi ruang-ruang di dalamnya.
Secara arsitektur bangunan ini mempertahankan gaya kolonial
khas Hindia dan Belanda dengan jendela tinggi dan pintu kayu berukuran besar.
Halaman yang luas dengan taman depan yang ditata ulang saat renovasi. Di bagian
depan gedung terdapat teras megah dengan tiang-tiang besar, memberi kesan agung
dan klasik. Sementara bagian belakang menyambung ke bangunan tambahan yang kini
difungsikan sebagai ruang pamer dan ruang administrasi.
Masuk ke dalam gedung pengunjung akan disambut oleh lorong
utama yang mengarah ke berbagai ruangan tematik. Di sisi kiri, terdapat ruang
sejarah perlawanan Bekasi, yang memamerkan kisah perjuangan tokoh-tokoh lokal
seperti KH. Noer Ali, Komandan Kali Bekasi yang dikenal karismatik. Ruang ini
juga menampilkan peta strategi militer lokal dan artefak asli seperti senjata
bambu runcing, keris, dan pakaian tempur tentara rakyat.
Sisi kanan lorong membawa pengunjung ke galeri budaya. Di
sini, identitas lokal Bekasi dipamerkan melalui koleksi pakaian adat, alat
musik tradisional, seperti rebana dan kendang, serta peralatan rumah tangga
masyarakat Betawi tempo dulu. Ruang ini memberikan pengalaman lintas waktu,
memperlihatkan bagaimana masyarakat Bekasi hidup, bekerja, dan mempertahankan
budayanya di tengah kolonialisme.
Naik ke lantai dua, terdapat ruang perundingan dan pameran
foto. Ruang ini dulunya digunakan sebagai tempat berkumpul dan berdiskusi oleh
para pejuang. Kini, dindingnya dipenuhi foto-foto peninggalan perjuangan dan
arsip kuno yang disusun rapi, dari masa penjajahan hingga era kemerdekaan.
Beberapa sudut bahkan dilengkapi dengan layar interaktif yang memungkinkan para
pengunjung menonton film pendek sejarah Bekasi.
Di sisi belakang gedung, terdapat area terbuka yang sering
dijadikan tempat pertunjukan seni, diskusi komunitas, dan kegiatan edukasi
sejarah. Anak-anak sekolah sering diajak mengikuti tur berpemandu, yang
menjelaskan kronologi sejarah Bekasi secara visual dan menyenangkan. Bahkan,
ruang terbuka ini juga menjadi tempat nongkrong para masyarakat lokal,
menjadikan Gedung Juang sebagai pusat ekspresi kreatif anak muda Bekasi.
“Tempatnya bagus banget untuk anak sekolah, semuanya sudah
ditata dan gampang juga dimengerti, Semoga makin banyak yang tahu tempat
seperti ini.”
Gedung Juang 45 bukanlah bangunan biasa. Merupakan bangunan
pengingat akan keberanian perlawan perjuangan lokal, dan cermin jati diri
Bekasi. Menjaganya merupakan kewajiban bersama, agar pengorbanan para pejuang
tidak akan pernah pudar dimakan zaman.
Penulis: Muhammad Daffa Riansyah
Editor: Fikri Haikal
