Selasa, 17 Juni 2025
Segarnya Usaha Gerobak Buah di Tengah Ramainya Foodcourt
Menjelang malam, suasana di salah satu sudut foodcourt perlahan mulai hidup. Lampu-lampu warung menyala, aroma makanan berbaur di udara, dan langkah kaki para pengunjung terdengar bersahutan. Di antara deretan gerobak yang berjajar rapi, tampak sebuah gerobak sederhana, penuh warna dari buah-buahan segar yang tertata apik. Gerobak itu bukan sekadar tempat berjualan. Di baliknya, berdiri seorang perempuan ramah yang telah enam tahun meneruskan usaha keluarga. Tangannya cekatan menyusun potongan mangga, menuangkan sirup, atau meracik jus sesuai pesanan.
"Awalnya tante saya yang mulai jualan di sini," tuturnya sembari tersenyum kecil. "Saya baru lanjutkan sejak 2019, pas pandemi COVID-19. Jadi totalnya usaha ini sudah jalan lebih dari 20 tahun."
Saat pandemi memaksa banyak orang kehilangan pekerjaan dan memutar arah hidup, ia justru menemukan pijakan baru. Ia meninggalkan pekerjaannya yang lama, dan sepenuh hati memilih berjualan. “Lebih menjanjikan,” katanya. Sejak saat itu, gerobak buah itu menjadi sandaran hidup, bukan hanya untuknya, tapi juga kelanjutan dari usaha keluarganya. Dari sekian banyak menu yang ditawarkan, jus mangga, alpukat, dan campuran buah menjadi favorit para pelanggan. Sup buah pun tak kalah peminat. “Pelanggan lebih suka jus, apalagi yang segar-segar,” ujarnya sambil mengelap meja dagangnya.
Menariknya, meski berada di tengah banyak pedagang lain, ia tak pernah merasa bersaing. “Rezeki kan sudah diatur. Saya nggak terlalu pikirin soal saingan, yang penting fokus jualan aja.” katanya tenang, seolah yakin bahwa keberkahan tak pernah datang dari rasa iri.
Untuk bisa berjualan di foodcourt ini, bukan perkara mudah. Ada sistem pengelolaan yang cukup ketat. Calon penjual harus melalui seleksi agar jenis dagangan tidak tumpang tindih. “Jadi nggak boleh lebih dari satu penjual dengan jualan serupa. Tempatnya juga aman dan nggak ada pungutan pembohong,” jelasnya. Foodcourt tempat ia berjualan buka dari jam 4 sore hingga tengah malam. Puncak keramaian biasanya terjadi antara pukul 7 hingga 10 malam, apalagi di malam minggu, malam senin, dan hari libur. Di waktu-waktu itu, ia nyaris tak berhenti melayani pembeli.
Namun baginya, berdagang bukan hanya soal penghasilan. Ini tentang tumbuh bersama usaha kecil yang terus hidup. “Dibanding kerja kantoran, jualan seperti ini lebih menguntungkan,” ujarnya mantap.
Dari balik gerobak buah yang sederhana, tersimpan kisah tentang kerja keras, usaha keluarga yang berkelanjutan, dan keyakinan bahwa siapa pun bisa sukses selama mau mencoba dan bertahan
Penulis: Ryzky Imelina Saragih, Revia Siva Fahera dan Arnoldine Cecilia Mada
Editor: Fikri Haikal
